DAUN JARAK YANG LAGI GUGUR

Seakan tidak berupaya berjarak lama
suriku yang bagus tetap sederhana
Hamidah mengiringku merata
dalam rangka mimpi ke pelosok nyata

Sekitar yang selama nyaman
taman kita tetap berbunga
subur dengan kasih
wangi dengan cinta
kita zikirkan ke hadhrat-Nya

Teringat Jabal Rahmah
puncak jodoh Adam-Hawa
doa di Raudhah Nabi
menyata harapan di Multazam
tenaga kecilnya menolak kerusi roda
tujuh keliling Kaabah
dan langkahan antara Safa-Marwah

Tidak upaya berjarak lama, kekasih
Tuhan memberi waktu baik untuk kita bersama
bahagia siang dan tenang malam
terkumpul dalam syukur kita
memiliki riang dan duka sekata

Ketaatan yang manis
ibadah kami yang belum seberapa
jalinkan ke rangkaian maghfirah
ke ruang hamba-hamba-Mu yang solihin

Tenang menerima aturan hayat suami
dia memilih kesabaran tanpa jemu
seia dirundung sakit tapi dia dihadiahkan tabah
kerap dengan harapan mengisi luang keperluan
faham rukun rumah tanga

Sebutan apalagi paling baik
selain reda dan syukur kepada-Mu, Allah
mempertemukan ikatan tali serasi
tanpa relai dan belah

Bahasa apakah paling bijaksana
selain terima kasih kepadamu, Hamidah
memenuhi lubuk hati tanpa sangsi
malah semakin bererti.

30.11.2007
Wad Teratai, HRPZ2.
Dewan Sastera, Mei 2008.

.......

SEHELAI DAUN JARAK GUGUR

Akhirnya aku
tiba-tiba saja gugur
menjadi sepi semakin sunyi
menjadi sunyi semakin sepi
sebelum kelam yang terkurung
menggapai rindu yang terapung

Sepertilah
malam di sini
hutan yang berombak
lalu sampanku tersangkut
membenam diri ke lumpur
debar yang berangkatan
tanpa terlihat kakilangit
atau bintang menggamit

Hamidah,
akupun tak menemuimu
melainkan suatu waktu lain
di setiap gugurnya daun-daun jarak
setelah kitapun sepi dan jauh
akupun sunyi dan mengeluh
sukar menghempaskan rindu
ke pesisiran bibirmu.

Kampus UKM Bangi.
Mingguan Malaysia, Jun 1977.
Antologi RUANG DALAM 1986.



0 Responses so far.

Post a Comment

Terima Kasih Kerana Memberi Komen Anda